Selamat Datang, Blog Kecil ini hanya berisi coretan-coretan kecil tentang study saya di Jurusan Perbandinan Agama Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

HInduisme - Sekte Sakti & Tantra

disusun oleh :
Sintia Aulia Rahmah (1110032100019)
Moch. Rengga (107032101462)


PENDAHULUAN


Bismillahirrahmanirrahiim...
Dewasa ini masih sering ditemukan pemujaaan terhadap para dewa dalam beberapa kuil dengan sesajian berupa sayuran,buah-buahan, binatang, dan konon juga manusia; kepada dewi tersebut.
Didalam shiwaisme, Sakti = semangat untuk berbuat, memaksa dewa shiwa sendiri,Pencipta Ilahi, supaya melakukan perbuatan penciptaan. (Kerasukan). Didalam aliran ini, sihir menjadi unsur yang penting, karena orang mengira bahwa didalam persekutuan dengan tuhan orang dapat berbuat segala-galanya.
 Selain metode keselamatan, seperti yang digunakan oleh aliran kali, ada pula metode:
A.    Cakra-Puja yang banyak dikenal dengan sebutan Tantra-Kiri.
sumber : www.wikipedia.org
Sejumlah laki-laki dan perempuan mengadakan pertemuan rahasia pada malam hari dan menyeru para dewi agar hadir ditempat pertemuan itu diselenggarakan pada Yoni (simbol seks wanita), kemudian mereka mengucapkan mantra-mantra. Setelah itu mereka melakukan “lima-M”  yaitu :
  ü  Madya (minuman keras)
  ü   Mamsa (makan daging)
  ü  Madsya (makan ikan)
  ü  Madhu (makan yang manis-manis)
  ü  Maithuna (Persetubuhan)

      B.     Sadhana (meditasi)
yang juga memerlukan bimbingan seorang guru yang sempurna.
Kesamaan-kesamaan dalam ajaran Tantra telah menyatukan Hindu (Siwaisme) dan Buddhisme, menjadi satu mazab keagamaan tunggal: Sivabuddha. Dalam teks sastra Jawa Kuno kenyataan itu berpuncak dalam sebutan “ya Buddha ya Siva”, yang berarti: tidak ada perbedaan apakah Anda seorang penganut Siva atau Buddha.
Sebagian besar sarjana menerima Tantrayana merupakan faktor utama yang memberi ruang terjadinya fusi antara Sivaisme dan Buddhisme, sehingga menjadi suatu mazab keagamaan yang berdiri sendiri di Indonesia. Bahkan Moens secara khusus melukiskan bahwa Tantrayana, khususnya Kalacakratantra, bertanggung jawab atas penyatuan mazab Siva-Buddha di Indonesia.
-Penyatuan antara Sivaisme dan Buddhisme di Indonesia dimungkinkan karena pengaruh Tantrayana atas kedua sistem keagamaan tersebut. Zoetmulder menerima pendapat Krom tentang pengaruh Tantrayana dan menamakan fenomena ini dengan nama: “tantirme-bhairavabouddhique”, yang ditandai dengan pelaksanaan upacara inisiasi di pekuburan dan disertai dengan minum darah, alkohol, dan hubungan seks.-
(Dr. N.J. Krom)

Notes :







1.    SEKTE SAKTI
Paham Saktiisme, atau disebut juga Kalaisme, Kalamukha, atau Kalikas (Kapalikas),adalah paham  yang dianut oleh penduduk asli India, Karena pengikut sekte ini kebanyakan penduduk asli India, maka oleh bangsa Arya disebut Sudra Kapalikas.

Aliran ini memusatkan pemujaan terhadap Devi/Dewi  sebagai Ibu Bhairawa (Ibu Durga atau Kali). Sebagai sakti (istri) Dewa Siwa, kedudukan Dewi Durga ini lebih ditonjolkan daripada dewa itu sendiri. Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran ini disebut Kalimasada (Kali-Maha-Husada), artinya “Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab” dalam zaman kekacauan moral, pikiran, dan perilaku.
Pengikut Saktiisme ini tidak mengikuti sistem kasta dan Veda (Weda). Dalam menunaikan ajaran, pengikutnya melaksanakan Panca Ma yang diubah arti dan pemahamannya menjadi pemuasan nafsu; maka dari itu akhirnya aliran ini dikucilkan dari Veda, keluar dari Hindusme.[1]

sumber : www.wikipedia.org
Persatuan antara siwa dan saktinya adalah persatuan antara laki-laki dan perempuan yang dilambangkan sebagai Linga dan Yoni. Karena itu hubungan seks memiliki arti yang sangat penting dalam sekte sakti ini. Karena segala sesuatu tercipta melalui persatuan tersbut, maka segala sesuatu mengandung kekuatan dan sakti siwa. Bentuk-bentuk tertentu dari sakti dan segala sesuatu adalah baik; tidak ada yang tidak baik.
Didalam saktisme , seperti diuraikan dalam kitab-kitab pelajaran tantra, yang menjadi pusat pikiran adalah :
“jalan perkembangan jiwa yang lengkap, sejak dari saat jiwa itu ada didalam tubuh manusia, di dalam tubuh orang hindu, memulai perjalanannya, terdiri dari tujuh tingkatan.”. [2]
Hanya orang yang tidak mengerti saja yang beranggapan bahwa ada yang baik dan ada yang tidak baik. Ini keliru, karena anggapan itu didasarkan pada kesadaran manusia sendiri. Untuk mencapai kebenaran dan kelepasan (Moksa), manusia harus melepaskan diri darai belenggu kekeliruan ini. Ia harus melepaskan kesadarannya sendiri sehingga dapat menyadarikebenaran bahwa segala sesuatu adalah perwujudan dari sakti dan siwa, dan bahwa semuanya adalah baik.[3]
Kesadaran in dapat dicapai melalui beberapa tahap, yaitu:
·         VedaCara
Yaitu melakukan korban dan mengucap mantra. Ini disebut Kriya-Marga.
·         VaisnavaCara
Yaitu Bhatiseperti yang dilakukan pada aliran wisnu (disebut Bhakti-Marga)
·         SaivaCara
Yaitu jalan penalaran untuk mengenal sifat siwa yang sebenarnya(jalan pengetahuan, atau Jenana-Marga)
·         DaksinaCara (Jalan Kanan)
Yaitu jalan orang yang sudah sadar akan sifat siwa yang sebenarnya sehingga sesembahan dan puja tidak lagi ditujukan kepada siwa, tetapi kepada saktinya.
·         VamaCara (Jalan Kiri)
Yaitu jalan bagi orang yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan dan dilakukan dibawah bimbingan seorang guru. Dalam tingkatan ini seseorang menjadi sadar bahwa segala sesuatu adalah sakti, baik. Yang harus dinyatakan dalam amalan yang terlarang bagi awam.
·         SiddhantaCara
Yaitu jalan kesadaran sejati, jalan keinsyafan. Berlaku hanya dikalangan orang yang sudah tidak lagi terikat oleh kebiasaan umum. Bagi merfeka segala sesuatu adalah baik.
·         KaulaCara
Yaitu jalan orang yang sudah sadar dan menghayati bahwa segala sesuatu adalah sakti dan satu dengan siwa. Orang seperti ini telah mencapai moksa sewaktu masih hidup didunia ini.

2.    SEKTE TANTRA
Definisi Tantra dijelaskan dalam kalimat ini:
“shasanat tarayet yastu sah shastrah parikirt-titah”,
 yang berarti :
“yang menyediakan petunjuk sangat jelas (clear-cut guidelines) dan oleh karena itu menuntun ke jalan pembebasan spiritual pengikutnya, disebut sastra.”
Akar kata trae diikuti sufiks da menjadi tra, yang berarti ‘yang membebaskan’. Kita melihat penggunaan yang sama akar kata tra dalam kata mantra.
 Definisi mantra adalah:
“mananat tarayet yastu sah mantrah parikirt-titah”
yang berarti:
“Suatu proses yang, ketika diulang-ulang terus menerus dalam pikiran, membawa pembebasan, disebut mantra.”
Beberapa sarjana mencoba membagi Tantra menjadi dua bagian utama, yaitu:
“jalan kanan” dan “jalan kiri.”
-Tantra “jalan kanan” (menghindari praktik ekstrem, mencari-cari pengertian yang mendalam, dan pembebasan melalui asketisme) harus dibedakan dari “jalan kiri” (black magic dan ilmu sihir). Ia menegaskan, di “jalan kanan”, bhakti atau penyerahan diri memegang peranan sangat penting; dan lebih daripada itu, bhakti cenderung menolak dunia material. Sedangkan “jalan kiri” mempunyai kecenderungan sangat berbeda. Ia berusaha keras menguasai aspek-aspek kehidupan yang mengganggu dan mengerikan, seperti kematian dan penyakit. Untuk mengatasi hal tersebut, eksistensi kekuatan keraksasaan (demonic) “jalan kiri” membuat kontak langsung di tempat-tempat yang mengerikan, seperti di pekuburan.-
(Bernet Kemper : Monumental Bali, “Introduction to Balinese Archaeology & Guide to the Monuments”,tahun 1991, hlm. 53)
Menurut : Lama Thubten Yeshe ( seorang praktisi Tantra Tibet),
-Tantra menggunakan pendekatan yang berbeda. Meskipun Tantra mengakui bahwa khayalan, seperti keterikatan kepada keinginan, adalah sumber penderitaan dan oleh karena itu harus diatasi, namun Tantra juga mengajarkan keahlian untuk menggunakan energi khayalan tersebut untuk memperdalam kesadaran kita sehingga menghasilkan kemajuan spiritual. Seperti halnya mereka yang dengan keahliannya mampu mengangkat racun tumbuh-tumbuhan dan menjadikannya obat mujarab, seperti itu pula seorang yang ahli dan terlatih dalam praktik Tantra, mampu memanipulasi energi keinginan, bahkan kemarahan, menjadi mapan. Ini sungguh-sungguh sangat mungkin dilakukan.-
Dalam pengertian tertentu, Tantra merupakan suatu teknik mempercepat pencapaian tujuan agama atau realisasi sang Diri dengan menggunakan berbagai medium, seperti mantra, yantra, mudra, mandala, pemujaan terhadap berbagai dewa dan dewi, termasuk pemujaan kepada makhluk setengah dewa dan makhluk-makhluk lain, meditasi, dan berbagai cara pemujaan, serta praktik yoga yang kadang-kadang dihubungkan dengan hubungan seksual. Elemen-elemen tersebut terdapat dalam Tantra Hindu maupun Buddha. Kesamaan teologi ini menjadi faktor penting yang memungkinkan Tantra menjadi salah satu medium penyatuan antara Sivaisme dan Buddhisme di Indonesia.
Hubungan seks dalam Tantra, seperti diperkirakan oleh Dasgupta, merupakan penyimpangan konsep awal Tantra. Konsep awal Tantra meliputi elemen-elemen seperti yang disebutkan tadi, yakni: mantra; yantra, mudra, dan yoga. Penyimpangan tersebut terjadi karena penggunaan “alat-alat praktis” (practical means) dalam Tantra Buddha yang berdasarkan prinsip-prinsip Mahayana dimaksudkan untuk merealisasikan tujuan tertinggi. Dengan kata lain, tujuan tertinggi, baik Tantra Hindu maupun Buddha, adalah tercapainya keadaan sempurna dengan penyatuan antara dua praktik (prajna dan upaya) serta merealisasikan sifat non-dual Realitas Tertinggi.
H.B. Sarkar dalam buku Literary Heritage of South East Asia yang terbit tahun 1980, halaman 71, menyatakan:
“hubungan seksual dalam Tantra lebih diarahkan untuk mengontrol kekuatan alam, bukan untuk mencapai pembebasan. Ia mengatakan, secara umum, tradisi Indonesia membagi tujuan hidup manusia menjadi dua: pragmatis dan idealistis. Mengontrol kekuatan alam merupakan salah satu tujuan pragmatis. Hal ini biasanya dilakukan oleh raja yang mempraktikkan sistem Kalacakrayana dalam usaha melindungi rakyatnya, memberikan keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian.”
Di Indonesia dikenal tiga jenis Tantra, yaitu:
1)      Bhairava Heruka di Padang Lawas, Sumatra Barat
2)      Bhairava Kalacakra yang dipraktikkan oleh Raja Krtanegara dari Singasari dan Adityavarman dari Sumatra yang sezaman dengan Gajahmda di Majapahit
3)      Bhairava Bhima di Bali. Arca Bhairava Bima terdapat di Pura Edan, Bedulu, Gianyar, Bali.
Menurut Prasasti Palembang (684 M),
Tantrayana masuk ke Indonesia melalui Kerajaan Srivijaya di Sumatra pada abad ke-7. Kalacakratantra memegang peranan penting dalam penyatuan Sivaisme dan Buddbisme, karena dalam Tantra ini, Siva dan Buddha dipersatukan
menjadi Sivabuddha. Konsep Ardhanarisvari memegang peranan yang sangat penting dalam Kalacakratantra. Kalacakratantra mencoba menjelaskan penciptaan dan kekuatan alam dengan penyatuan Dewi Kali yang mengerilcan,.tidak hanya dengan Dhyani Buddha, melainkan juga dengan Adi Buddha sendiri. Kalacakratantra mempunyai berbagai nama dalam sekte Tantra yang lain, seperti Hewajra, Kalacakra, Acala, Cakra Sambara, Vajrabairava, Yamari, Candamaharosana, dan variasi bentuk Heruka.
Mazab Siva-Buddha dengan pengaruh khusus Kalacakratantra dapat dilihat pada tinggalan-tinggalan arkeologi, seperti di Candi Jawi. Prapanca dalam Nagarakrtagama canto 56, stanzas 1 and 2, melukiskan monumen ini dengan sangat indah. Bagian bawah candi, yaitu bagian dasar dan badan candi, adalah Sivaistis, sedangkan bagian atas atau atap adalah Buddhistis, karena dalam ruang terdapat area Siva dan di atasnya, di langit-langit, terdapat arca Aksobhya. Inilah alasannya mengapa Candi Jawi menjadi sangat tinggi, dan oleh karena itu disebut sebuah Kirtti.
Dalam Tantra Hindu prinsip metafisik Siva sakti dimanifestasikan di dunia material ini dalam wujud laki-laki dan perempuan. Demikian pula halnya dalam Tantra Buddha pola sama diikuti, di mana prinsip-prinsip metafisik Prajna dan Upaya dimanifestasikan dalam wujud perempuan dan laki-laki. Tujuan tertinggi kedua mazab Tantra ini adalah penyatuan sempurna, yaitu penyatuan antara dua aspek dan realitas dan realisasi dan sifat-sifat non-dual roh dan non roh.
Secara fundamental, sebagaimana dipaparkan S.B. Dasgupta, prinsip-prinsip Tantra sama di mana-mana. Perbedaan-perbedaan kecil, yang barangkali ada, hanyalah perbedaan pada nada dan warna.
·         Dalam Tantra Hindu :
nada dan warna diisi oleh ide-ide filsafat, agama dan praktik-praktik agama Hindu.
·         Tantra Buddha :
diisi oleh ajaran-ajaran agama Buddha.
Sehubungan dengan Tantra Hindu dan Buddha ini, H.B. Sarkar mengatakan, “Mistik yang lebih ma dan ritual dengan praktik-praktik shamanisme diperlakukan serta dimodifikasi dengan perhiasanperhiasaan baru dan pemujaan yang didominasi oleh mantra, mudra, abhiseka, dan sebagainya. Di sini, baik Tantra Buddha maupun Tantra Hindu sebagian besar menggunakan simbol-simbol luar dan polayang sama dalam penyelenggaraan ritual, namun secara keseluruhan isi dan objek kedua Tantra ini berbeda. Sebab, para sadhaka Buddha - melalui praktik Tantra menginginkan pembebasan dan ikatan dunia material dan tenggelam ke dalam kebahagiaan abadi, sedangkan Tantra Siva ingin mengontrol dunia material.”
Dengan kenyâtaan-kenyataan tersebut tidak mengherankan kalau Sivaisme dan Buddhisme bisa mencapai penyatuan begitu mendalam melalui medium ajaran Kalacakratantra. Alasan atas kuatnya penyatuan tersebut juga dapat ditelusuni melalui fakta sejarah bahwa awal mula kehadiran Kalacakratantra di antara pemeluk Hindu dan Buddha berawal dari perlawanan terhadap pengaruh kekuasaan Islam.
Biswanath Banerjee mengatakan, “penyaman dewa-dewi Hindu mencapai puncaknya pada waktu berkembangnya sistem Kalacakra.”
Faktor utama yang mendorong berkembangnya kecenderungan berkompromi antara Buddhisme dengan berbagai sekte dalam agama Hindu, dapat dilacak keberadaaannya dan kehadiran agama dan kebudayaan Islam. Ini dapat dipelajari dan teks-teks Kalacakra yang memuat bahwa Buddhisme sedang mengalami masalah sosial atas sergapan infiltrasi kebudayaan Smitik. Untuk melakukan perlawanan atas berkembangnya pengaruh kebudayaan asing tersebut, mereka melakukan ketjasama dengan umat Hindu. Maksud memperkenalkan sistem Kalacakra adalah untuk melindungi umat Buddha dan Hindu dan konversi (pengalihan agama) ke agama Islam.
Dengan maksud unmk menghentikan kerusakan akibat kebudayaan asing, para pemimpin agama Buddha melakukan inter-marriage dan inter-dining antara keluarga Buddha dan Hindu; dan agar mereka tertarik untuk berlindung di bawah panji satu Tuhan Kalacakra, yang diterima di antara mereka sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Adalah sangat mungkin dalam keadaan darurat perang untuk menyatukan berbagai kelompok religius dan berjuang di bawah kepemimpinan Tuhan Kalacakra untuk melawan penganuh asing. Perkembangan mazab ini dengan penyatuan dewa-dewa Hindu yang begitu kuat dalam Kalacakra menyebabkan terjadinya fusi kebudayaan dan mereka akhirnya bersatu menghadapi bahaya yang mengancam dari infiltrasi Islam.
Selanjutnya dicoba melakukan penyatuan di antara semua pengikut Brahma, Visnu, Siva, dan termasuk orang-orang suci mereka dalam satu keluarga Vajrakula, dengan empat inisiasi utama dalam Kalacakna, yaitu menghilangkan semua perbedaan dalam ras, kelas, syahadat, dan tradisi.
Selain karena pendekatan sejarah dan teologi, banyak juga yang melihat penyatuan Siva-Buddha karena persamaan filosôfi. Ida Bagus Made Mantra mengatakan, persamaan fundamental dalam teori manifestasi antara Sivaisme (khususnya Siva Siddhanta), dan Buddha Mahayana bertanggung jawab atas berkembangnya mazab Siva-Buddha. Ia memberi uraian yang panjang untuk mendukung pernyataan ini.
Dalam filsafat Siva Siddhanta tendapat tiga tattva (realitas):
*      Siva-tatva                    : Niskala
Artinya tanpa bentuk, dan aspek ini merupakan ciri Siva-tatva. Siva dalam posisi tertinggi adalah tanpa bentuk atau tanpa atribut atau dalam suatu keadaan entitas tanpa bentuk yang tak dapat dibedakan (undifferentiated formless entity). Dalam kedudukan ini semua bentuk-bentuk yang diciptakan dari corporealitas menyatukan badan mereka dalam penyebab awal (Primeval Cause). Keadaan ini merupakan keadaan damai yang tidak dapat dimengenti. Dalam kedudukan ini pula Realitas Tertinggi dipahami tanpa awal dan akhir, meresap ke dalam seluruh Alam Semesta, talc terpisahkan, dan tidak dapat dibandingkan. Inilah keadaan yang dipahami sebagai keadaan Niskala.
*      Sadasiva-tattva           : Sakala-niskala
*      Mahesatattva               : Sakala
Ketiga tattva Saiva Siddhanta itu berkaitan dengan empat Kaya dan filsafat Buddha Mahayana. Keempat kaya itu adalah:
*      Svabhava-kaya
adalah kesadaran murni, bersih dari semua semua kekotoran subjektif dan obyektif, pasif, tanpa aktivitas, meliputi alam semesta, penyatuan kosmis dan kebijaksanaan yang tak terbatas dari kebajikan, memiliki kasih sayang universal, prinsip-prinsip dalam (inner principle) dari semua Dharma. Sifat-sifat tersebut adalah sifat svabhavaka-kaya yang diidentifikasikan dengan Buddha.
*      Dharma-kaya
*      Sambhoga-kaya
*      Nirmaya-kaya.
 Keempat kaya tersebut diklasifikasikan menjadi dua kelompok:
Kelompok pertama, Svabhavaka-kaya dan Dharma-kaya, yang bersifat kesucian sempurna, pasif di dalam pninsip-pninsipnya.
Kelompok kedua, muncul di dunia ini untuk dipertunjukkan. Di sini perlu digarisbawahi: Svabhavaka-kaya kadangkala tidak dijelaskan, dan oleh karena itu, hanya Dharma-kaya mewakili prinsip murni dan pasif.
Mazab Shinghong dan Buddha Mahayana di Jepang juga mempunyai teori manifestasi penyatuan alam (manifestation of the cosmic unity) yang kurang lebih memiliki persamaan dengan Siva Siddhanta. Menurut mazab ini, Tathagata Mahavainocana atau Dahrmakaya mempunyai dua perwujudan, yaitu
*      Garba-dhatu (matrix element),memiliki karakter:
 (a) meditasi Agung
 (b) kebijaksanaan
 (c) kasih sayang
dan masing-masing dari ketiganya diatributkan kepada Buddha, Vajra, dan Padma. Buddha bersesuaian dengan Tathagata Mahavairocana yang menandakan pengetahuan sempurna;
*       Vajra-dhatu (thunder element).
Vajra-dhatu (elemen halilintar), mempunyai lima aspek, tiga di antaranya termasuk tiga kelas sebagaimana dijelaskan dalam Garba-dhatu, dan dua lainnya adalah Ratnanubhava dan Karmanubhava. Sifat-sifat Ratnanubhava mengungkapkan kebenaran dan pembebasan sempurna dari Buddha tanpa pembatasan; dan Karmanubhava yang kelima memperlihatkan pemenuhan dari seluruh kegiatan.
Vajra bersesuaian dengan Vajra-sattva menandakan suatu kebijaksanaan, pasti dalam sifatsifatnya, dan menghancurkan semua penderitaan; dan Padma bersesuaian dengan Avalokitasvana, menandakan pemikiran murni dari bagian dalam makhluk hidup.[4]
Sekilas, sekte Tantra ternyata pernah ada di Indonesia yaitu pada abad ke 9 yang kemudian hilang. Sekte Tantra Indonesia ini dimulai ketika kedatangan Subha Karasingha,Vajra Bodhi dan Amongha Vajra ke Indonesia. Ketika penyebarannya ke Tiongkok, ajaran tantra ini diturunkan kepada Hui Guo. Dimana murid Hui Guo yang bernama Ban Hong dari kerajaan Kalingga Indonesia. Dimana ini yang akan menjadi cekal bakalnya Tantra Laut Kidul (Tantra Borobudur).[5]
·       Bhairawa Tantra dan Peradaban Jawa Kuno   
           Ia adalah sekte rahasia dari sinkretisme antara agama Budha aliran Mahayana dengan agama Hindu aliran Çiwa. Sekte ini muncul kurang lebih pada abad ke-6 M di Benggala sebelah timur. Dari sini kemudian tersebar ke utara melalui Tibet, Mongolia, masuk ke Cina dan Jepang. Sementara itu cabang yang lain tersebar ke arah timur memasuki daerah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.[6]
            Pengikut sekte Bhairawa Tantra berusaha mencapai kebebasan dan pencerahan (moksa) dengan cara yang sesingkat-singkatnya. Ciri-ciri mereka adalah anti asketisme dan anti berpikir.[7]
Menurut mereka, pencerahan bisa diraih melalui sebuah kejenuhan total terhadap kenikmatan duniawi. Tujuan secara penuh memanjakan kenikmatan hidup dengan tanpa mengenal kekangan moral ini puncaknya adalah untuk melenyapkan segala hasrat terhadap semua kenikmatan itu. Dengan memenuhi segala hasratnya, seorang pengikut sekte ini akhirnya tidak merasakan apa pun selain rasa jijik terhadap kenikmatan tersebut.[8] Oleh karena itu, pengikut sekte ini justru melakukan ritual-ritual tertentu yang bagi selain mereka dianggap sebagai larangan. Hal ini sebagai usaha agar manusia bisa secepatnya meniadakan dirinya sendiri dan mempersatukan dirinya dengan Dewanya yang tertinggi. Ritual mereka bersifat rahasia dan sangat mengerikan, yaitu menjalankan Pancamakarapuja atau malima (lima Ma) dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Lima Ma tersebut adalah matsya (ikan), mamsa (daging), madya minuman), maudra (tarian hingga mencapai ekstase), dan maithuna (upacara seksual).[9]
Praktek malima adalah menyembelih perawan sebagai persembahan kepada dewa, kemudian meminum darahnya bersama, tertawa-tawa, dan menari-nari dengan diiringi oleh bunyi-bunyian dari tulang-tulang manusia yang dipukul-pukul hingga menimbulkan suara gaduh. Ritual dilanjutkan dengan makan dan minum bersama. Setelah itu dalam acara yang dilakukan di lapangan yang disebut ksetra, para peserta ritual melakukan persetubuhan massal, yang kemudian diikuti dengan semedi.[10]
 Jika kita cermati, ritual yang dilakukan di lereng Merapi dalam contoh di depan menunjukkan pengaruh malima ajaran Bhairawa Tantra. Penyembelihan kerbau adalah bentuk yang diperhalus dari mamsa. Tarian hingga ekstase adalah wujud dari maudra. Ritual telanjang dengan membaca rapal yang sangat membangkitkan berahi adalah bentuk yang diperhalus dari maithuna.   
            Bhairawa Tantra merupakan bagian dari peradaban Jawa kuno. Banyak raja mengikuti sekte ini karena ritual-ritual dan simbol-simbol magisnya bisa digunakan untuk menganugerahi atau mengancam para bawahan. Ritual-ritual Bhairawa Tantra juga menetapkan ikatan mistis dan spiritual antara raja dan kawulanya sehingga memungkinkan raja untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar.[11]
            Salah seorang raja Jawa yang menjadi pengikut Bhairawa Tantra adalah Kertanegara, raja Singasari. Pada masa akhir Singasari, sekte ini mengalami kemajuan. Ketika Singasari diserbu oleh pasukan Jayakatwang dari Kadiri, Kertanegara bersama patihnya, Mahāwrddhamantri, para pendeta terkemuka, dan pembesar lainnya sedang makan minum sampai mabuk. Mereka sedang melaksanakan ritual Tantra.[12]
            Selain di Jawa, sekte Bhairawa Tantra juga menyebar di Sumatra serta berangsur-angsur bersatu dengan tenung dan kepercayaan pada kanibalisme. Adityawarman, seorang raja dari kerajaan Melayu, menerima pelantikannya di tengah-tengah lapangan bangkai, sambil duduk di atas timbunan bangkai, tertawa minum darah, dan menghadap korban manusia yang menebarkan bau busuk. Akan tetapi, semua ini bagi Adityawarman sangat semerbak baunya.[13]
·       Tokoh Penganut Tantra Di Indonesia
Ratu Nilakendra
Nilakendra atau Tohaan di Majaya naik tahta sebagai penguasa Pajajaran yang kelima. Pada saat itu situasi kenegaraan telah tidak menentu dan frustasi telah melanda segala lapisan masyarakat. Carita Parahiyangan memberitakan sikap petani "Wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pepelakan" (Petani menjadi serakah akan makanan, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu). Ini merupakan berita tidak langsung, bahwa kelaparan telah berjangkit.
Frustasi di lingkungan kerajaan lebih parah lagi. Ketegangan yang mencekam menghadapi kemungkinan serangan musuh yang datang setiap saat telah mendorong raja beserta para pembesarnya memperdalam aliran keagamaan Tantra. Sekte Tantra adalah sekte yang melakukan meditasi dengan mempersatukan Yoni dan Lingga. Artinya meditasi dilakukan dengan melakukan hubungan antara laki laki dan perempuan. Shri Kertanegara dari Kerajaa Singhasari juga penganut ajaran ini.
"Lawasnya ratu kampa kalayan pangan, tatan agama gyan kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan beuanghar"
(Karena terlalu lama raja tergoda oleh makanan, tiada ilmu yang disenanginya kecuali perihal makanan lezat yang layak dengan tingkat kekayaan).
Selain itu, Nilakendra malah memperindah keraton, membangun taman dengan jalur-jalur berbatu ("dibalay") mengapit gerbang larangan. Kemudian membangun "rumah keramat" (bale bobot) sebanyak 17 baris yang ditulisi bermacam-macam kisah dengan emas.
Mengenai musuh yang harus dihadapinya, sebagai penganut ajaran Tantra yang setia, ia membuat sebuah "bendera keramat" ("ngibuda Sanghiyang Panji"). Bendera inilah yang diandalkannya menolak musuh. Meskipun bendera ini tak ada gunanya dalam menghadapi laskar Banten karena mereka tidak takut karenanya. Akhirnya nasib Nilakendra dikisahkan "alah prangrang, maka tan nitih ring kadatwan" (kalah perang, maka ia tidak tinggal di keraton).
Nilakendra sejaman dengan Panembahan Hasanudin dari Banten dan bila diteliti isi buku Sejarah Banten tentang serangan ke Pakuan yang ternyata melibatkan Hasanudin dengan puteranya Yusuf, dapatlah disimpulkan, bahwa yang tampil ke depan dalam serangan itu adalah Putera Mahkota Yusuf. Peristiwa kekalahan Nilakendra ini terjadi ketika Susuhunan Jati masih hidup (ia baru wafat tahun 1568 dan Fadillah wafat 2 tahun kemudian).
Demikianlah, sejak saat itu ibukota Pakuan telah ditinggalkan oleh raja dan dibiarkan nasibnya berada pada penduduk dan para prajurit yang ditinggalkan. Namun ternyata Pakuan sanggup bertahan 12 tahun lagi.[14]
Persegi Bulat: __________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________Notes :














KESIMPULAN
Sebenarnya aliran Sakti-shiwa ini masih dapat dimasukan sebagai bagian dari aliran siwa, tetapi karena yang disembah dan dipuja bukan lagi siwa melainkan saktinya melainkan durga, dan karena lebih luas dan lebih mendalam, maka lebih tepat kalau dianggap sebagai salah satu aliran keagamaan sendiri dalam agama hindu. Sakti adalahkekuatan prinsip aktif yang menyebabkan siwa mampu mencipta. Tanpa sakti tersebut siwa tidak dapat bebuatapa-apa karena siwa adalah prinsip pasif. Karena itu sakti menjadi lebih penting daripada dsiwa sendiri. Segala sesuatunya terjadi karena bersatunya prinsip pasif dan prinsip aktif, yaitu persatuan siwa dan saktinya, durga.
Para penganut sekte siwa-sakti sangat mementingkan mantra dan mempergunakan bentuk mistik (Mandala),gerak jari tertentu (Mudra), gerak tangan tertentu (Nyasa) untuk memanggil dan memikat dewa agar merasuk dalam dirinya.
Dalam Tantrayana, ritual merupakan elemen utama buat merealisasikan Kebenaran Tertinggi.
“ritual merupakan seni keagamaan. Seni adalah bentuk luar materi sebagai ekspresi ide-ide yang berdasarkan intelektual dan dirasakan secara emosional. Seni ritual berhubungan dengan ekspresi ide-ide dan perasaan tersebut yang secara khusus disebut religius. ini adalah suatu cara, dengan mana kebenaran religius ditampilkan, dan dapat dimengerti dalam bentuk material dan symbol-simbol oleh pikiran. Ini berhubungan dengan semua manifestasi alam dalam wujud keindahan, di mana, untuk beberapa alasan, Tuhan memperlihatkan Diri Beliau Sendiri. Tetapi ritual tidak terbatas hanya untuk tujuan itu semata-mata. Artinya, dengan seni religius sebagai alat, pikiran ditransformasikan dan disucikan.”(John Woodroffe)
Pandangan kalangan akademis ini sangat berbeda dengan pandangan praktisi Tantra. Para praktisi Tantra pada umumnya menolak pembagian Tantra atas Tantra positif dan negatif. Mereka menekankan pada metode untuk mentransformasikan keinginan.
Tantra itu suatu kombinasi unik antara mantra, upacara, dan pemujaan secara total. Ia adalah agama dan juga filosofi, yang berkembang baik dalam Hinduisme maupun Buddhisme.

Notes :









Alhamdulillahirabbil’alamiin.....

Jakarta, 29 September 2011,
Penyusun,





DAFTAR PUSTAKA

§  Ali, Mukti, H.A, Agama-Agama Di Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press: Yogyakarta
§  Honig Jr,Dr.A.G. , “ilmu Agama” , PT.BPK Gunung Mulia :1997
§  Hardjowardojo, R. Pitono, Adityawarman; Sebuah Studi Tentang Tokoh Nasional dari Abad XIV, (Jakarta: Bhratara, 1966)
§  Rasjidi, H.M., Islam dan Kebatinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977)
§  Michel, Paul Munoz, Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia; Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara (Jaman Prasejarah—Abad XVI), (Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009)
§  Wojowasito, S. Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Jilid II, (Jakarta: Siliwangi, 1952)
§  Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1985)
§  Stutterheim, W.F. Cultuur Geschiedenis van Indonesië; Het Hinduïsme in De Archipel, Jilid 2, (Jakarta: J.B. Wolters-Groningen, 1951)
http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Nilakendra


[1]http://www.wacananusantara.org/1/kepercayaan/Jejak-Jejak-Tantrayana-Di-Indonesia
[2] Dr.A.G. Honig Jr, “ilmu Agama” , PT.BPK Gunung Mulia :1997 , Hal.143-145
[3]H.A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press: Yogyakarta. Hal. 85-86
[4] http://www.parisada.org/Bersatu-dalam-Rajutan-Tantra
[5] http://sukrablog.blogspot.com/2008/04/pernyebaran-budha-mahayana-budha-2.html
[6] R. Pitono Hardjowardojo, Adityawarman; Sebuah Studi Tentang Tokoh Nasional dari Abad XIV, (Jakarta: Bhratara, 1966), hlm. 25.
[7] H.M. Rasjidi, Islam dan Kebatinan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 100.
[8] Paul Michel Munoz, Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia; Perkembangan Sejarah dan Budaya Asia Tenggara (Jaman Prasejarah—Abad XVI), (Yogyakarta: Mitra Abadi, 2009), hlm. 84.
[9] S. Wojowasito, Sedjarah Kebudajaan Indonesia, Jilid II, (Jakarta: Siliwangi, 1952), hlm. 148. Lihat juga R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1985), hlm. 34.
[10] Lihat R. Pitono Hardjowardojo, ibid, hlm. 26
[11] Paul Michel Munoz, ibid, hlm. 172. 
[12] R. Soekmono, ibid, hlm. 66. 
[13] W.F. Stutterheim, Cultuur Geschiedenis van Indonesië; Het Hinduïsme in De Archipel, Jilid 2, (Jakarta: J.B. Wolters-Groningen, 1951), hlm. 136.
[14] http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Nilakendra

Read more

Perkembangan Agama Hindu-Budha antara Abad ke-8 -10 M

artefak peninggalan Majapahit


Hingga saat ini belum ada penjelasan yang memuaskan perihal perkembangan sejarah politik dan kebudayaan setelah keruntuhan Kerajaan Tarumanagara di Jawa bagian barat hingga berdirinya Kerajaan mataram Kuno di Jawa bagian tengah. Berita mengenai perkembangan agama baru di dapatkan dalam uraian prasasti Canggal yang berangka tahun 732 M, sebenarnya telah ada secara samar dapat diketahui pemujaan terhadapa dewa-dewa Hindu Trimurti lewat ungkapan prasati Tuk Mas berasal dari sekitar tahun 700 M. dalam prasati tersebut dinyatakan bahwa terdapat mata air yang jernih  dan dapat menghapus noda dan dosa sebagaimana halnya air sungai gangga. Selain itu pada prasati yang sama juga digambarkan adanya berbagai benda-benda (laksana) yang biasanya dipegang oleh dewa-dewa Trimurti ( Brahma, Visnu dan Siva). Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa Hindu Trimurti telah dikenal oleh penduduk Jawa Kuno masa itu. Sanjaya sebagai raja Mataram pada waktu itu memerintahkan untuk mendirikan lingga dibukit Sthirangga, dengan menyatakan segala pujaan kepada Siva dalam 3 bait, sedangkan bagi Brahma dan Visnu masing-masing hanya dimuliakan 1 bait saja.
Prasasti Canggal ditemukan di Bukit Gunung  Wukir, dipuncak bukit itu sampai sekarang masih terdapat runtuhan bangunan candi Hindu Saiva yang khas Jawa. Runtuhan tersebut memperlihatkan adanya 1 candi induk dengan 3 candi pervara yang dibangun didepannya saling berhadapan. Dengan penataan seperti itu banyak juga dijumpai diwilayah Jawa bagiwn tengah antara lain; Candi Sambisari, Kedulan, Morangan dan Merak.
Pada periode yang bersamaan, di tlatah Jawa Timur pun berdiri Kerajaan Kanjuruhan. Berita ini didapatkan dari satu-satunya prasati yang bertarikh 760 M. prasasti Diyono, ditemukan dekat Candi Badut yang dihubungkan dengan kerajaan ini. Arsitekturnya memang menunjukkan gaya bangunan candi tua. Pada candi Diyono ini dinyatakan bahwa Raja Gajayana yang juga disebut Limwa adalah pengganti Raja Dewasimha. Gajayanamendirikan tempat suci bagi Agastya (salah satu tokoh Sapta-Rsi, murid-murid utama Siva) arcanya yang semula dari kayu cendana diganti dengan arca batu hitam.
Ilustrasi
Terdiri dari 1 candi induk dengan 3 candi Pervara di hadapannya
Dikelilingi oleh pagar dan candi induk berada ditengah halaman
Pagara keliling dapat lebih dari satu lapis


Perkembangan agama Budha diwilayah Jawa tengah berdasarkan bukti-bukti tertulisnya dari prasasti Kalasan 700 Saka/ 778 M.  dalam prasati itu diuraikan adanya pemujaan terhadap sakti Budha, yaitu Tara, dan didirikan bangunan suci khusus untuk memukanya yang dinamakan Tarabhavanam.
Antara abad ke-8 – 10 M, agama budha didirikan untuk memuliakan Panca Tathagata dan juga Dhyani Bhoddhisattva lainnya. Candi Borobudur (Panca Tathagata sebagai dewata yang dimuliakan, sebab di candi tersebut digambarkan kelima wujud Tathagata dan peletakkannya yang sesuai dengan arah mata angin), Pawon, dan Mendut (yang terdapat 3 arca monolit yang menggambarkan tokoh Sidarta Gautama yang diapit oleh  Dhyani Bhoddhisattva  Avalokitesvara di kanan dan Dhyani Bhoddhisattva Vajrapani dikirinya dan dalam bilik candi terdapat banyak relung parsvadewata)dahulu merupakan bangunan suci yang mempunyai latar belakang keagamaan yang sama.
Candi lainnya yang dahulu diduga biliknya diisi oleh arca-arca Panca Tathagata adalah candi Ngawen di Muntilan, terdiri atas bangunan menghadap ke timur. Dibilik candi Ngawen II sekarang, terdapat arca Ratnasambhava yanga kepalanya telah terpenggal. Perkembangan Budha Mahayana juga mengedepankan pemujaan terhadap tokoh Dhyani Bodhisattva Manjusri. Hal ini dapat diketahui melalui prasasti Manjusrigrha 729 M, ditemukan di halaman percandian Sewu. Demikian dapat diketahui bahwa nama asli percandian Sewu adalah Vajrasanamanjusrigrha tokoh dalam prasasti yang disetarakan dengan Triratna kemudian yang identik dengan trimurti. Selanjutnya muncul pendapat yang menyatakan bahwa pada abad ke-18 M uapaya “koalisi” antar agama Budha Mahayana dan Hindu-Saiva sebenarnya sudah terlihat, upaya itu kemudian jelas terlihat pada periode berikutnya terutama era Majapahit dan Singasari.
Dalam periode yang hamper bersamaan dengan pembangunan candi d wilayah Jawa Tengah, mungkin disusun pula kitab Jawa Kuno yang berisikan ajaran keagamaan Budha Mahayana; Sanghyang Kamahayanikan (SHK) uraiannya berkesesuaian dengan penggambaran arsitektur, relief, dan arca-arca di candi Borobudur terutama tercermin pada bagian kaki candi tertutup yang dihias dengan pahatan relief cerita Mahakarmavibhangga ajaran yang sama juga tertera pada bagian tubuhcandi (tingkat I-VI) yang dipahatkan beberapa relief cerita yang berasal dari sutra-sutra tertentu; Avadana, Jatakamala dan Lalitavistara . di candi ini juga dapat dikenali adanya visualisasi dari ajaran Yogacara(sebagaimana yang tertera pada SHK) dalam bentuk relief cerita Gandavyuha dan Bhadracari yang terpahat di dinding candi dan pagar langkan (balustrade). Ajaran aliran filsafat Yogacara tersebut sangat terletak pada posisi yang penting, karena pada prinsipnya ajaran ini menonjolkan praktik yoga untuk memperoleh pengetahuan tertinggi (jnana)yang merupakan pembuka jalan untuk mencapai kebudhaan. Reliefnya mengambil narasi dari perjalanan dalam pengembaraan Sudhana dalam melakukan yoga dibawah bimbingan Samantabhadra yang pada akhirnya berhasil mencapai pengetahuan dan kebenaran tertinggi (Magetsari 2000: 44)  
Perkembangan agama budha antara abad ke-10 -12 M sangat terbatas datanya, suatu temuan penting didapatkan dari daerah nganjuk, yaitu sejumlah besar arca-arca perunggu kecil yang berasala dari susunan Panteon Vajradhatu-mandala. Ada yang berwujud Tara, Bhoddhisattva, dan juga Tathagata. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa sebelum pemujaan terhadap panteon Budha sebagaimana yang telah dikenal pada masasebelumnya masih tetap berlanjut. Diwiliayah Kediri sampai sekarang masih terdapat adanya goa pertapaan buatan “Goa Selamangleng” dengan ragam hias yang terdapat di dalamnya, goa itu diperkirakan sezaman dengan pemandian kuno Jalatunda ( sekitar akhir abad ke-10 M). di dalamnya juga terdapat ruang yang cukup gelap sehingga sangat mungkin di masa silam goa itu dipakai oleh para bhiksu atau kaum agamawan budha untuk meditasi, napas agama budha diketahui akibat adanya penggambaran relief tinggi (achala) tokoh Tathagata Amitabha pada salah satu ruangannya.
Perkembangan agama budha Mahayana dalam masa selanjutnya pada zaman Dharmawangsa Tguh, Airlangga, hingga era kerajaa-kerajaan Janggala dan Panjalu(Kadiri), masih belum dapat di ketahui secara baik, karena selain data arkeologi yang terbatas dan sumber-sumber tertulis yang dapat membantu mengungkpakan perkara itu juga terbatas pula. Kemudian baru didapatkan kembali saat zaman kerajaan Singasari dan Majapahit yang kemudian menggambarkan kembali agama budha .
 
Dikutip dari; Sejarah Kebudayaan Indonesia

Read more